ZonaFakta.com – Keluarga almarhum Adrian T. Manoppo (28) masih menunggu keadilan atas insiden kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang suami pada Juli 2024 di Jalan Interchange Jembatan Layang Kairagi, Manado.
Sopir truk tronton yang menabrak Adrian diduga merupakan anak di bawah umur, sementara truk tersebut juga menggunakan pelat nomor yang diduga palsu.
Djuliana Katuuk, istri dari almarhum, mengaku kecewa dengan lambannya proses hukum yang terjadi.
Sudah tiga bulan berlalu sejak kecelakaan, namun belum ada tindak lanjut yang konkret dari pihak yang bertanggung jawab, baik sopir truk maupun Charles Kalamu, penyewa truk tersebut.
“Beberapa pekan setelah kejadian, baru ada pertemuan di kantor polisi, hanya sekadar perkenalan antara saya dengan sopir truk dan Charles. Saat itu, Charles berjanji akan bertanggung jawab penuh, tapi sampai sekarang tidak ada perkembangan lebih lanjut,” ujar Djuliana, warga Kairagi Dua.
Menurut Djuliana, yang membuatnya semakin kecewa adalah kenyataan bahwa Charles mempekerjakan anak di bawah umur sebagai sopir truk tronton, serta truk tersebut diduga menggunakan pelat nomor palsu dan surat STNK yang telah kedaluwarsa.
Selain itu, identitas pemilik sah truk tronton itu juga belum terungkap.
Djuliana menambahkan, hingga saat ini belum ada bantuan dari pihak Charles untuk biaya pemakaman maupun biaya hidup keluarganya.
Diketahui, Adrian yang bekerja sebagai karyawan swasta di bidang pengadaan kontrak di Citraland Kairagi, merupakan tulang punggung keluarga.
Kini, Djuliana harus mengurus anak mereka, Alighieri, seorang diri.
Kronologi Kecelakaan
Pada Selasa, 16 Juli 2024, Adrian sedang dalam perjalanan pulang dari kantornya sekitar pukul 17.10 WITA.
Saat itu, ia berniat menjemput Djuliana yang bekerja di Sekolah Citra Kasih, Manado.
Dalam perjalanan melewati interchange Kairagi, Adrian terjebak macet dan mengendarai motornya secara perlahan.
Tanpa diduga, sebuah truk tronton yang melaju dengan kecepatan tinggi dari arah Kairagi kehilangan kendali dan menabrak Adrian.
Motor dan tubuh Adrian terseret hingga masuk ke bawah ban truk. Sopir truk tronton sempat turun, namun kemudian melarikan diri dengan alasan ingin menghubungi atasannya, tanpa memberi pertolongan kepada korban.
Seorang pengendara motor lainnya akhirnya membantu membawa Adrian ke Rumah Sakit Sentra Medika Minut.
Meskipun sempat menjalani operasi, Adrian meninggal dunia di Rumah Sakit Sentra Medika Minut karena pendarahan hebat.
Trauma Mendalam
Djuliana mengungkapkan bahwa sejak kejadian itu, ia mengalami trauma berat dan tak lagi bisa bekerja dengan normal.
Setiap kali melihat truk di jalan, ia merasakan sesak dada dan mual. Bahkan, ia memutuskan untuk berhenti bekerja guna menjaga anaknya, Alighieri, sementara waktu.
“Sebelum operasi terakhirnya, suami saya sempat berpesan, ‘Sayang, jaga Alighieri.’ Itu pesan terakhirnya yang membuat saya berjuang untuk anak kami,” ungkap Djuliana dengan suara bergetar.
Keluarga korban berharap agar pihak kepolisian segera menuntaskan kasus ini dan memastikan bahwa keadilan ditegakkan bagi almarhum Adrian serta keluarganya. (*)












