ZonaFakta.com – Dalam sebuah sesi sidang disertasi di hadapan pimpinan sidang, Prof. Dr. Agusa, S.Si., Ak., menyampaikan apresiasinya terhadap disertasi yang dipresentasikan oleh promovendus, Agus Harimukti Yudoyono.
Disertasi bertajuk “Transformational Leadership dan Human Resources Orchestration Menuju Indonesia Emas” itu dianggap menarik, terutama karena mengusung teori Resource Orchestration dan Excellence Approach dalam konteks transformasi ekonomi Indonesia.
Prof. Agusa menyoroti tiga faktor kunci yang diungkapkan dalam disertasi tersebut: kapasitas sumber daya manusia, kepemimpinan, dan tata kelola.
Dalam pertanyaannya, Prof. Agusa meminta penjelasan lebih lanjut mengenai sinkronisasi sumber daya di berbagai tingkat tata kelola, terutama terkait lulusan perguruan tinggi yang seringkali tidak sejalan dengan kebutuhan pasar.
Agus Harimukti Yudoyono menjawab dengan lugas bahwa sinkronisasi tersebut memang menjadi tantangan, terutama dalam konteks desentralisasi.
Setiap daerah memiliki pemimpin dengan visi dan misi yang berbeda, sehingga implementasi di lapangan tidak selalu selaras dengan kebijakan pusat.
Namun, menurut Agus, tidak berarti hal tersebut tidak bisa diatasi.
Dengan orkestrasinya yang baik, sinkronisasi bisa dibangun antara pemerintah pusat dan daerah, serta antardaerah.
“Hal yang penting adalah adanya kepercayaan antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Ini bukan hanya soal pendekatan top-down atau bottom-up, tapi juga horizontal. Dengan demikian, kita bisa mencegah ketimpangan yang terlalu besar antara Jawa dan luar Jawa, antara kota dan desa,” jelasnya.
Agus juga menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah pusat dengan kepemimpinan yang kuat serta tata kelola yang baik.
“Leadership yang kuat serta good governance akan mengubah banyak hal, termasuk menciptakan birokrasi yang responsif dan adaptif,” tambahnya.
Dalam diskusi yang berlangsung, Prof. Agusa juga sempat menyinggung peran politisi dan akademisi.
Ia menekankan bahwa politisi tanpa akademisi bisa menghasilkan kebijakan yang keliru, sementara akademisi tanpa politisi bisa membuat kebijakan yang kurang tepat sasaran.
Di akhir sesi, ia menyampaikan harapannya agar Agus Harimukti Yudoyono dapat menjadi pemimpin yang mengusung kepemimpinan transformasional di masa mendatang. (*)












