Beberapa lembaga survei telah memanfaatkan teknologi cloud computing dan machine learning untuk menganalisis data secara real-time.
Hal ini memungkinkan hasil quick count dapat diakses oleh publik hanya dalam hitungan jam setelah TPS ditutup.
Selain itu, quick count sering kali memiliki tingkat akurasi yang tinggi, terutama jika dilakukan oleh lembaga survei terpercaya.
Rata-rata margin of error dalam quick count hanya berkisar 1-2%, menjadikannya metode yang cukup andal.
Namun, ada juga kasus di mana hasil quick count meleset jauh dari penghitungan resmi, terutama jika sampel data tidak dipilih dengan benar atau terjadi gangguan dalam proses pengumpulan data.
Fakta menarik lainnya adalah bagaimana masyarakat merespons hasil quick count.
Dalam beberapa kasus, quick count dapat memengaruhi opini publik dan memicu perubahan strategi di pihak kandidat.












